Perjalanan Wiliam Hartono Menjadi Pelari Ultra Hingga Tembus Spartathlon Yunani

Wiliam Hartono saat berhasil menjadi juara pertama Binloop Ultra 2026 kategori 200K (dok. istimewa)
Di balik meja kerjanya, kesibukan William Hartono mungkin tidak ada bedanya dengan pekerja kantoran di Jakarta pada umumnya. Dikejar deadline, meeting, dan sibuk menuntaskan tumpukan pekerjaan setiap harinya hingga menjadi pelari ultra.
Namun, begitu jam kantor usai, William bertransformasi. Ia meninggalkan kemejanya, mengenakan sepatu lari, dan menantang jalanan panjang. Ia menaklukkan rute hingga ratusan kilometer—sebuah jarak yang bagi banyak orang bahkan sulit untuk dibayangkan.
Namanya baru-baru ini menjadi sorotan utama sebagai pelari ultra setelah berhasil menjadi juara sekaligus mencetak Course Record (rekor rute) di ajang bergengsi Binloop Ultra 2026 kategori 200K.
Titik Nol: Berawal dari Diet dan Kenekatan di Borobudur
Jika menoleh ke beberapa tahun silam, tidak ada yang menyangka William akan menjadi “monster” di lintasan ultra. Perjalanan larinya tidak berakar dari bakat atletik bawaan. Semasa kecil, olahraga yang ia sukai hanyalah berenang santai.
Semuanya baru dimulai pada pertengahan tahun 2018 dengan alasan yang sangat klasik: ingin menurunkan berat badan.
Setelah setahun berlari rutin, William nekat mendaftar lomba pertamanya pada tahun 2019. Bukannya memilih jarak aman seperti 5K atau 10K untuk pemula, ia langsung terjun ke kategori Full Marathon (42,195 km) di Borobudur Marathon.
Meski mengaku buta soal pacing (ritme lari) maupun target waktu, ia sukses menyentuh garis finish dengan catatan impresif untuk ukuran pemula: 3 jam 47 menit.
Perjuangan Konsisten Menembus Sub-3 Marathon
Merasa ketagihan dengan atmosfer perlombaan, William bergabung dengan klub lari pada 2019. Dari momen kumpul komunitas inilah ia mulai memahami teknik lari yang benar. Tanpa pelatih (self-coached), ia menyusun program latihannya sendiri di sela kesibukan kantor.
Perkembangannya melesat tajam dari tahun ke tahun:
2020: Memangkas waktu menjadi 3 jam 30 menit.
2022: Mempertajam catatan menjadi 3 jam 7 menit.
2023: Menyentuh angka 3 jam 3 menit.
Namun, mengejar gelar prestisius batas waktu di bawah 3 jam (Sub-3 Marathon) terbukti sangat kejam. Sepanjang tahun 2024, ia harus menelan pil pahit dan berkali-kali gagal mencapai target. Kesabarannya baru berbuah manis pada tahun 2025, ketika ia akhirnya resmi memecahkan rekor pribadinya dan dinobatkan sebagai pelari Sub-3 Marathon.
Panggilan Sejati di Pelari Ultra
Secara paralel, perkenalan William dengan dunia lari ultra (di atas jarak maraton) sebenarnya sudah dimulai sejak era pandemi. Saat banyak perlombaan resmi ditiadakan, ia dan teman-temannya kerap membuat tantangan gila, seperti lari lintas alam 100 kilometer ke Cisadon.
Awalnya, William merasa lari ultra itu terlalu menyiksa tubuh dan sempat ingin fokus ke maraton saja. Namun, semesta memiliki rencana lain.
Titik baliknya terjadi di ajang Binloop. Pada tahun 2025, ia sukses mencetak rekor waktu tercepat untuk kategori 120K (11 jam 13 menit). Pencapaian ini membuka mata rekan-rekan komunitasnya.
“Ngapain maraton-maratonan terus, bakat lu tuh di sini (ultra),” kenang William menirukan dukungan teman-temannya.
Celetukan itu memacu adrenalinnya. Ia pun nekat mendaftar ITB Ultra 180K dan secara mengejutkan kembali keluar sebagai Juara 1 dengan catatan waktu 21 jam.
Tiket Emas Menuju Legenda: Spartathlon Yunani 2026
Tanpa disadari, rentetan kemenangan brutal di Binloop 120K dan ITB Ultra 180K adalah kunci pembuka pintu menuju panggung dunia. Catatan waktunya memenuhi kualifikasi super ketat untuk mendaftar Spartathlon—perlombaan ultra legendaris dan sakral sejauh 246 kilometer di Yunani yang menjadi impian tertinggi para pelari ultra di seluruh dunia.
William resmi diterima sebagai peserta Spartathlon yang akan digelar pada 26–27 September 2026.
Bahkan, partisipasinya di Binloop 200K baru-baru ini yang berujung pada podium pertama, ia anggap hanya sebagai bagian dari “menu latihan panjang” menuju Yunani. Meski begitu, ia sangat sadar bahwa tantangan sebenarnya menanti di sana.
“Kalau di Binloop kan relatif datar, sementara di Spartathlon elevasinya bisa sampai 3.000 meter,” ujarnya merendah.
Saat ditanya soal ekspektasinya nanti di Yunani, William memberikan jawaban yang sangat membumi:
“Bisa finish dengan selamat adalah target utama, sembari berharap bisa menorehkan waktu yang lebih baik.”
Kisah perjalanan menjadi pelari ultra dari William Hartono membuktikan satu hal penting: Dengan konsistensi, kemauan belajar yang tinggi, dan kedisiplinan tingkat dewa, rutinitas kantor sepadat apa pun bukan alasan untuk tidak bisa berlari jauh melampaui batas kemampuan fisik kita.
Follow Instagram Cerita Pelari @ceritapelari agar kamu dapat informasi lari lainnya dan baca juga berita terbaru seputar lari.















