Eddy Angkawibawa, Sang Kolektor 100 Marathon dan Pemegang Rekor MURI

Eddy 100 marathon

Dalam dunia lari, angka 100 bukan sekadar statistik. Bagi Eddy Angkawibawa, angka tersebut adalah simbol ketekunan selama bertahun-tahun. Di usianya yang kini menginjak 62 tahun, dosen sekaligus purnabakti perusahaan swasta ini telah mencatatkan tinta emas sebagai Insan Indonesia Pertama yang Menyelesaikan 100 Marathon.

Sebuah pencapaian yang tidak hanya diakui secara internasional, tetapi juga resmi tercatat dalam Museum Rekor Dunia-Indonesia (MURI).

Berawal dari Rutinitas Kesehatan Tahun 2001

Perjalanan Eddy dimulai jauh sebelum tren lari menjamur di Indonesia. Pada tahun 2001, ia mulai berlari dengan motivasi yang sangat membumi: ingin sehat.

Pada masa itu, mencari tempat lari yang nyaman di Jakarta masih menjadi tantangan. Tanpa bantuan aplikasi canggih atau komunitas besar, Eddy menjalani lari sebagai rutinitas sunyi demi menjaga kebugaran tubuh di tengah kesibukan profesionalnya.

Titik Balik di Usia Emas: Marathon Pertama di Umur 50

Banyak orang berpikir untuk mulai “mengerem” aktivitas fisik saat menginjak usia kepala lima. Namun, Eddy justru sebaliknya. Tepat pada 27 Oktober 2013, di usia 50 tahun, ia menyelesaikan marathon pertamanya (42,195 km).

Baca Juga:  Hattrick Emas SEA Games! Odekta Elvina Naibaho Ukir Sejarah, Kuasai Marathon Putri Tiga Kali Beruntun

Sensasi melewati garis finish memberikan kepuasan batin yang sulit dilukiskan. Hal inilah yang kemudian memicu rasa “ketagihan” yang positif untuk terus menantang diri dari satu lomba ke lomba berikutnya.


5 Tahun, 23 Negara, dan 5.164 Anak Tangga

Target Eddy menjadi lebih terarah saat ia mengenal 100 Marathon Club, sebuah komunitas global bagi pelari yang telah menuntaskan seratus lomba lari jarak jauh. Sejak 2013 hingga 2018, Eddy melakukan perjalanan epik yang luar biasa:

  • Penjelajahan Global: Menaklukkan rute marathon di 23 negara berbeda.

  • Medan Ekstrem: Salah satu yang paling berkesan adalah Great Wall Marathon di China, di mana ia harus mendaki dan menuruni 5.164 anak tangga di Tembok Besar.

  • Disiplin Baja: Menjaga kebugaran agar tetap sanggup mengikuti jadwal perlombaan yang padat di berbagai belahan dunia.

Baca Juga:  Skandal Rosie Ruiz di Boston Marathon 1980: Kisah Kecurangan yang Mengguncang Dunia Lari

Puncaknya terjadi pada 9 Desember 2018 di ajang Super Ball Run, Jakarta. Langkah kakinya di garis finish hari itu menjadi langkah ke-100, mengukuhkan namanya di kancah nasional dan internasional.


Bukan Soal Kecepatan, Tapi Tentang Kedalaman Hati

Meski memegang Rekor MURI, Eddy tetaplah sosok yang rendah hati. Ia menegaskan bahwa dirinya bukan pelari yang mengejar podium atau pace (kecepatan) tinggi.

“Saya hanya pelari yang menikmati proses,” ujarnya tenang.

Bagi Eddy, lari marathon telah mengubah kepribadiannya menjadi:

  1. Lebih Sabar: Memahami bahwa tujuan besar butuh waktu panjang.

  2. Lebih Positif: Menghadapi tantangan hidup dengan mentalitas seorang marathoner.

  3. Lebih Rendah Hati: Menyadari bahwa setiap garis finish adalah awal dari perjalanan baru.

Baca Juga:  Kesan Mendalam Tiga Finisher Pertama Run To Care 2025: Tantangan, Emosi, dan Makna Sosial

Pesan untuk Generasi Pelari: Mulailah dari Niat Sehat

Eddy ingin mematahkan anggapan bahwa lari adalah soal validasi atau pujian di media sosial. Pesannya bagi siapapun yang ingin memulai adalah:

  • Niatkan untuk Sehat: Itu adalah pondasi paling kuat.

  • Bertahap: Tingkatkan jarak sedikit demi sedikit, jangan terburu-buru.

  • Nikmati Proses: Jangan hanya fokus pada hasil akhir, tapi nikmati setiap langkahnya.

Bagi Eddy Angkawibawa, 100 marathon adalah sebuah rangkaian cerita tentang kesetiaan pada janji diri sendiri. Ia membuktikan bahwa di usia senja pun, kita masih bisa berlari menjemput kehormatan.

Follow Instagram Cerita Pelari @ceritapelari agar kamu dapat informasi lari lainnya dan baca juga Tips dan Trik seputar lari.

Bagikan artikel ini melalui: