Denny Abal, Menembus Batas sebagai Ostomate di BTN JAKIM

Denny dengan medali BTN Jakarta International Marathon (Dok: Istimewa)
Di balik hingar-bingar dunia hiburan Jakarta, nama Denny Abal (50) dikenal sebagai sosok yang tangguh. Sebagai seorang DJ dan manajer artis, ritme hidupnya selalu cepat, penuh tekanan, dan menuntut stamina prima. Namun, tantangan terbesar dalam hidupnya bukan datang dari panggung hiburan, melainkan dari meja operasi.
Kisah Denny adalah bukti bahwa kondisi fisik—seberat apa pun itu—bukanlah alasan untuk berhenti bergerak.
Titik Balik: Antara Lapangan Hijau dan Kesadaran Diri
Sejak lama, Denny memang menggemari sepak bola dan badminton. Namun, pola hidupnya baru benar-benar berubah pada tahun 2023 saat ia menjabat sebagai asisten manajer di RANS Football Club.
Sering menemani tim latihan di lapangan memicu keinginan Denny untuk mulai berlari. Baginya, olahraga bukan lagi sekadar hobi, melainkan kebutuhan untuk bertahan di industri hiburan yang melelahkan.
“Langkah pertama tidak pernah mudah. Tantangan terbesarnya bukan jarak, tapi melawan alarm pagi dan rasa malas,” akunya. Namun, konsistensi mengubah segalanya. Dari seminggu sekali, ia mulai rutin berlari 3-4 kali sepekan.
Ujian Terberat: Diagnosis Crohn’s dan Operasi Stoma
Saat semangat larinya sedang menggebu, Denny diuji oleh kondisi kesehatan yang serius. Ia didiagnosis menderita radang usus (Crohn’s Disease) yang mengharuskannya menjalani operasi stoma.
Menjadi seorang ostomate (orang dengan lubang buatan pada perut untuk pembuangan) sempat membuatnya pasrah. Namun, kepasrahan Denny bukanlah tanda menyerah. Ia memilih percaya bahwa ini adalah jalan Tuhan agar ia bisa terus bertahan hidup.
Semangatnya kembali berkobar saat ia melihat para pejuang ostomate lain di media sosial tetap aktif di gym, bahkan ikut maraton. Denny pun bergumam dalam hati, “Jika mereka bisa, aku pun harus coba.”
Kemenangan di BTN JAKIM 2025: Lebih dari Sekadar Finisher
Hanya berselang 3-4 bulan setelah kembali berolahraga pasca-operasi, Denny mengambil keputusan berani: mendaftar Virgin Half Marathon (21 km) di BTN JAKIM 2025.
Hari perlombaan itu menjadi momen sakral. Denny berlari bukan untuk mengejar podium atau catatan waktu tercepat. Ia berlari untuk membuktikan kepada dirinya sendiri bahwa menyandang stoma bukanlah akhir dari segalanya.
Denny berhasil finish. Medali yang ia kalungkan bukan sekadar simbol jarak tempuh, melainkan simbol kemenangan atas trauma, rasa takut, dan batasan pikiran yang sempat menghantuinya.
Hidup Baru dengan Disiplin Tinggi
Pasca-kejadian tersebut, hidup Denny berubah 180 derajat:
Pola Makan: Jauh lebih terjaga dan selektif.
Kedisiplinan: Menghargai waktu istirahat dan mendengarkan sinyal tubuh.
Misi Sosial: Mengedukasi generasi muda bahwa kesehatan harus dijaga sejak dini, sebelum penyesalan datang.
Kini, Denny Abal melangkah dengan kepercayaan diri baru. Dengan dukungan penuh dari keluarga dan sahabat, ia terus membuktikan bahwa seorang ostomate tetap bisa hidup aktif dan bermartabat.
Pesan Denny: Hidup Selalu Punya Ruang untuk Diperjuangkan
Bagi Denny, setiap langkah kaki di aspal adalah cara untuk bersyukur atas kesempatan kedua. Pesannya sederhana: Jangan tunggu sakit untuk mulai bergerak. Dan jika sakit itu datang, jangan biarkan ia menghentikan langkahmu.
Karena bagi seorang Denny Abal, berlari adalah cara terbaik untuk bangkit dan merayakan hidup.
Follow Instagram Cerita Pelari @ceritapelari agar kamu dapat informasi lari lainnya dan baca juga Tips dan Trik seputar lari.















