Jerome Polin, Berhasil Finish Tokyo Marathon Setelah Operasi Kaki

Angga, Erika, dan Jerome saat memamerkan medali Tokyo Marathon 2026 (dok. instagram.com/@jeromepolin/)
Bagi Jerome Polin, lintasan lari sejauh 42,195 kilometer di Tokyo Marathon 2026 bukan sekadar perlombaan. Itu adalah pembuktian diri atas janji yang ia buat kepada tubuhnya sendiri. Seorang influencer yang dikenal dengan kecerdasan matematikanya ini baru saja menyelesaikan Virgin Full Marathon (marathon pertama) sekaligus World Major Marathon pertamanya.
Namun, di balik medali yang ia kalungkan, ada cerita tentang perjuangan melawan rasa sakit dan keraguan yang sempat membekapnya.
Mengalahkan Trauma Pasca-Operasi
Perjalanan Jerome menuju Tokyo tidak dimulai dengan kemudahan. Pada Mei 2023, ia menjalani operasi kaki yang membuatnya sempat dirundung rasa ragu. Bisakah kakinya menopang beban lari marathon?
Namun, Jerome memegang prinsip yang teguh: “Tidak ada yang tidak mungkin selagi kita mau berusaha.” Baginya, lambat bukan berarti gagal. Yang terpenting adalah tidak berhenti.
Konsistensi: Dari “3 KM yang Terasa Berat” Menjadi 42 KM
Persiapan Jerome dimulai pada November 2025. Di awal latihan, ia jujur mengakui betapa beratnya 3 kilometer pertama. “Napas engap, berat, dan masih banyak jalannya,” kenangnya. Ia sempat dirundung keraguan, bagaimana mungkin bisa menaklukkan 42 kilometer jika 3 kilometer saja sudah seberat ini?
Dengan dukungan program latihan dari tim Pocari Sweat, Jerome disiplin menjalankan rutinitas:
4x seminggu: Latihan lari intensif.
1x seminggu: Strength training untuk memperkuat otot.
Detik-Detik Dramatis di KM 36
Hari perlombaan tiba. Namun, tantangan sesungguhnya muncul di kilometer ke-36. Saat kaki mulai terasa kram dan rasa sakit menjalar ke seluruh bagian—dari paha, betis, hingga jari kaki—mental Jerome sempat goyah.
“Aku hampir menyerah dan sempat berpikir, nggak papa lah nggak finish,” ungkapnya.
Namun, di kilometer ke-39, sebuah kekuatan muncul. Jerome berdoa, mengumpulkan sisa-sisa energi, dan melakukan last push. Dengan semangat dari para cheerleader di sepanjang rute, ia justru mencatatkan pace tercepatnya tepat di 2 kilometer terakhir sebelum menyentuh garis finish dengan catatan waktu 5:46:08.
Pembelajaran Berharga dari Jerome Polin
Melalui maraton pertamanya, Jerome membagikan refleksi yang bisa menjadi pelajaran bagi kita semua:
Konsistensi adalah Kunci: Progres mungkin tidak selalu cepat, tapi selama kamu terus bergerak, kamu pasti akan berkembang.
Mendengarkan Tubuh: Mengetahui kapan tubuh sedang dalam kondisi “enak” untuk lari kencang, dan kapan harus waspada saat muncul rasa sakit.
Mentalitas Finish Strong: Fokuslah pada tujuan akhir, namun jangan pernah meremehkan kekuatan doa dan energi tambahan yang muncul saat kita benar-benar sudah mencapai batas kemampuan.
“Progresku mungkin nggak cepat. Tapi aku belajar satu hal: nggak ada yang nggak bisa kalau kita yakin dan terus latihan. Sekecil apa pun progresnya, pasti ada hasil yang bikin hati lebih tenang,” tutup Jerome.
Kisah Jerome membuktikan bahwa marathon bukan hanya soal adu cepat, melainkan tentang bagaimana kita tetap melangkah di tengah rasa sakit untuk mencapai garis impian.
Follow Instagram Cerita Pelari@ceritapelari agar kamu dapat informasi lari lainnya dan baca juga Tips dan Trik seputar lari.














