Mengenal Arief Wismoyono “Rektor” Manglayang Academia

Arief Wismoyono saat berpartisipasi di UTMB tahun 2017 (dok. istimewa)
Siapa yang tidak kenal Arief Wismoyono? Di dunia lari lintas alam (trail running) Tanah Air, namanya adalah jaminan mutu. Pria yang akrab disapa “Pak Rektor” ini baru saja kembali mencatatkan sejarah sebagai orang Indonesia pertama yang menyentuh garis finish di kategori super ekstrem 162K ajang bergengsi Rinjani 100 di tahun 2026.
Namun, di balik otot kakinya yang kuat menembus tanjakan dan turunan curam, siapa sangka bahwa sang pelari elite ini tidak memulai segalanya dengan privilese fisik yang mumpuni?
Masa Kecil di Bandung: Jauh dari Kata Atletis
Lahir dan besar di jantung Kota Bandung pada tahun 1984, Arief bukanlah tipe anak “anak alam” yang fisiknya tertempa karena kebiasaan berladang atau mendaki bukit.
Tumbuh sebagai anak tentara yang tinggal di asrama, masa kecil Arief justru diwarnai dengan kerentanan fisik. Ia sempat keluar-masuk rumah sakit karena memiliki riwayat asma dan gangguan paru-paru. Aktivitas fisiknya saat itu hanyalah bermain bola di lapangan depan rumah—sekadar untuk bersenang-senang, jauh dari level kompetitif.
2014: Berawal dari Skeptisisme yang Menjadi Adiksi
Kisah cinta Arief Wismoyono dengan trail running justru lahir dari sebuah penolakan. Pada tahun 2014, rekan-rekannya dari komunitas Bandung Explorer mengajaknya mendaki Gunung Tangkuban Perahu. Awalnya, ia menolak keras. Dalam benaknya, gunung adalah tempat yang merepotkan: harus jalan jauh, capek, dan berisiko kehujanan.
Namun, rasa penasaran akhirnya mengalahkan keraguannya. Saat menapaki pendakian pertamanya, pandangannya berubah 180 derajat. Kejutan adrenalin menyapanya saat ia iseng mencoba lari kecil menuruni jalur tanah (downhill).
Di luar dugaan, tubuhnya yang dulu rentan kini mampu merespons medan teknikal dengan sangat luwes.
Melesat Tanpa Ekspektasi: Dari MesaStila hingga Asia Trail Master
Menyadari ada potensi besar yang tertidur, Arief tidak tanggung-tanggung dalam menguji batas dirinya. Masih di tahun 2014, ia nekat mengikuti lari Bandung–Jakarta sejauh 178 km. Dengan tekad baja, ia berhasil finish dalam waktu 45 jam dan menjadi satu dari hanya empat peserta yang full berlari di acara tersebut.
Debut lombanya di jalur tanah terjadi pada MesaStila Ultra 60K. Saat itu, Arief datang nyaris tanpa modal perlengkapan profesional:
Tidak memakai jam tangan GPS/lari.
Water vest (tas air) hasil meminjam dari teman.
Tampil tanpa ekspektasi tinggi.
Hasilnya? Alam semesta berpihak padanya. Arief Wismoyono sukses merebut Juara 1.
Kemenangan itu menjadi pembuka keran prestasinya. Berturut-turut, ia menyabet podium di Bromo Tengger Semeru (BTS) Ultra 70K dan Gede Pangrango 50K. Puncaknya pada 2015, ia dinobatkan sebagai Juara Asia Trail Master edisi perdana sekaligus memenangi Mount Rinjani Ultra (MRU).
Lahirnya “Pak Rektor” dan Manglayang Akademia
Seiring prestasinya yang meroket, muncul julukan “Pak Rektor” yang kini sangat dihormati di berbagai jalur pegunungan Nusantara. Bagaimana julukan ini bermula?
Kisah ini berawal pada 2017 saat Arief sedang mempersiapkan diri untuk ajang internasional paling bergengsi, UTMB (Ultra-Trail du Mont-Blanc). Ia memusatkan latihannya di Gunung Manglayang, Bandung Timur.
Setiap kali mengajak teman-temannya berlatih, ia sering melontarkan celetukan khas, “Hayu ah, academia.” Celetukan santai itu berubah menjadi sebuah pergerakan besar. Saat berkumpul di Batu Kuda, seorang rekan membuatkan logo kepala kuda dengan tulisan “Manglayang Academia”. Karena kata ‘academia’ identik dengan perguruan tinggi, teman-teman pelari secara organik mulai memanggil Arief sebagai pendirinya dengan sebutan “Rektor”.
Konsistensi: Rahasia Sang Juara Bertahan
Hingga detik ini, Arief Wismoyono masih berdiri kokoh sebagai salah satu pelari elite terbaik di Indonesia. Keberhasilannya menaklukkan kategori 162K Rinjani 100 baru-baru ini adalah bukti sahih.
Bahkan, meski lututnya sempat terbentur batu hingga berdarah di kilometer 19, mental juaranya tidak sedikit pun luntur. Ia tetap melangkah hingga menyentuh garis akhir.
Bagi sang “Rektor”, tidak ada rahasia magis di balik semua pencapaian luar biasanya selain satu kata yang terus ia hidupi setiap hari: KONSISTENSI.
Follow Instagram Cerita Pelari @ceritapelari agar kamu dapat informasi lari lainnya dan baca juga berita terbaru seputar lari
















