Pengalaman Obesitas Robbi Setiawan, Menaklukkan 120 Kg demi Investasi Masa Depan

Robbi Setiawan berlari dengan sang istri (Foto: Dokumentasi Robbi)
Bagi Robbi Setiawan, lari bukan sekadar hobi yang datang tiba-tiba. Lari adalah sebuah penyelamat. Pria berusia 35 tahun yang bertugas sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di Tanjung Selor, Kalimantan Utara ini, pernah berada di titik di mana setiap langkah terasa berat—secara harfiah. Lulusan IPDN yang sehari-hari sibuk dengan pemberdayaan desa ini harus menghadapi kenyataan pahit ketika timbangan menunjukkan angka yang mengkhawatirkan: 120 kilogram. Pengalaman obesitas ini membuat Robi berkomitmen untuk hidup sehat.
April 2020: Titik Balik Sang Abdi Negara
April 2020 menjadi momen yang tak terlupakan. Tubuh Robbi mulai mengirimkan sinyal-sinyal peringatan. Napas yang mudah tersengal dan aktivitas sederhana yang terasa membebani menjadi alarm bahwa kesehatan pondasi utama hidupnya sedang goyah.
Kesadaran itu muncul dari dalam diri. Robbi memutuskan bahwa ia harus berubah. Namun, ia tahu perjalanan ini tidak bisa dilakukan sendirian.
“Kalau ini komitmen, aku akan dukung sepenuh hati,” ucap sang istri, sebuah janji sederhana yang menjadi bahan bakar utama Robbi untuk memulai transformasi.
Dukungan Keluarga: Pilar di Tengah Badai Cedera
Perjalanan menuju hidup sehat tidak pernah mulus. Di tengah proses penurunan berat badan, Robbi harus menghadapi ujian fisik yang berat: cedera ACL hingga beberapa kali harus masuk IGD.
Di ruang rumah sakit itulah, perspektif Robbi tentang kesehatan berubah total. Ia menyadari bahwa menjaga tubuh bukan sekadar soal penampilan, melainkan investasi panjang agar ia tetap bisa mendampingi anak-anak dan keluarganya hingga masa tua.
Dukungan sang istri tidak pernah surut. Dari menjaga pola makan hingga menemani lari, kehadiran keluarga dan komunitas lari Tanjung Selor Runners membuat Robbi tidak merasa berjuang sendirian di tanah utara Kalimantan.
Dari Penurunan Berat Badan Menuju Aksi Sosial
Kini, setelah tubuhnya terasa lebih ringan dan keluhan kesehatan menghilang, makna lari bagi Robbi telah berevolusi. Lari bukan lagi soal membakar kalori, melainkan ruang refleksi dan cara untuk memberi dampak bagi orang lain.
Robbi aktif terlibat dalam gerakan sosial melalui lari, seperti:
Event Charity: Menggunakan langkah kakinya untuk mengumpulkan donasi.
Run to Care: Bentuk kepedulian nyata untuk berbagi kepada sesama yang membutuhkan.
Bagi Robbi, hidup sehat telah membuka pintu peluang untuk berbuat lebih banyak. Berlari memberinya kekuatan untuk bermimpi lebih jauh, bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk masyarakat yang ia layani.
Pesan untuk “Diri yang Lama”
Menoleh ke belakang, Robbi memiliki pesan mendalam untuk dirinya yang dulu berbobot pernah pengalaman obesitas 120 kg:
Terima Kasih pada Tubuh: Terima kasih karena sudah memberikan tanda sejak awal untuk berhenti dari kebiasaan buruk.
Jangan Melupakan Masa Lalu: Meninggalkan versi lama bukan berarti melupakannya, tapi menjadikannya pelajaran untuk menguatkan orang lain yang sedang berjuang.
Kekuatan Niat & Dukungan: Selelah apa pun prosesnya, jika diniatkan dari hati dan didukung orang tercinta, tidak ada yang mustahil.
“Kuncinya selalu ada di dalam dirimu sendiri,” pungkas Robbi. Kini, ia melangkah dengan lebih ringan, bukan hanya karena berat badan yang berkurang, tapi karena hati yang lebih lapang untuk berbagi.
Follow Instagram Cerita Pelari @ceritapelari agar kamu dapat informasi lari lainnya dan baca juga Tips dan Trik seputar lari.
















