Polemik Tanjakan Abah Donny: Saat Arena Latihan Atlet Trail Run Terancam Komersialisasi

Tanjakan Abah Donny

BOGOR – Di kalangan pegiat trail running (lari lintas alam) Tanah Air, nama Tanjakan Abah Donny tentu sudah tidak asing lagi. Jalur menanjak yang membelah rimbunnya kawasan Gunung Pancar, Kabupaten Bogor, ini telah lama menjadi “kawah candradimuka” bagi para pelari, mulai dari kelas pemula hingga atlet yang tengah bersiap menghadapi kompetisi nasional maupun internasional.

Namun, belakangan ini, jalur ikonis tersebut tengah menjadi sorotan hangat. Muncul kabar mengenai rencana penutupan akses dan penerapan tarif komersial bagi pelari yang ingin melintas, sebuah kebijakan yang memicu polemik di tengah komunitas olahraga.

Berawal dari Menghindari Gesekan dengan Peziarah

Di balik nama jalur ini, ada sosok Donny Gahral Adian, atau yang akrab disapa Abah Donny, Pengurus TAD Academy: Sekolah Elevasi. Ia menceritakan bahwa ide awalnya dari sebuah kebutuhan sederhana: mencari ruang latihan yang aman dan minim konflik.

“Awalnya para pelari berlatih di jalur Gunung Pancar yang juga digunakan oleh para peziarah menuju area makam. Karena aktivitasnya saling beririsan, beberapa kali terjadi gesekan. Dari situlah saya kemudian membuka jalur alternatif yang kini dikenal sebagai Tanjakan Abah Donny,” terang Abah Donny.

“Surga” Latihan Uphill: 2,2 KM dengan Elevasi 500 Meter

Bagi pelari trail, lintasan ini adalah arena latihan yang sangat efisien. Tanjakan Abah Donny memiliki panjang lintasan sekitar 2,2 kilometer dengan total elevasi (elevation gain) mencapai 500 meter.

Baca Juga:  Lebih Ringan & Responsif! HOKA Resmi Luncurkan Cielo X1 3.0 dan Mach 7 di Indonesia

Kombinasi tanjakan curam dalam jarak singkat ini sangat ideal. Hanya dengan melakukan pengulangan (looping) naik-turun sebanyak empat kali, seorang atlet sudah bisa mengantongi tabungan 2.000 meter elevation gain. Selain itu, medan ini sangat cocok untuk memoles teknik uphill (tanjakan) dan downhill (turunan) sekaligus membangun ketahanan otot kaki.

Protes Komersialisasi: “Ini Arena Latihan, Bukan Objek Wisata!”

Polemik bermula ketika muncul wacana bahwa akses menuju Tanjakan Abah Donny akan dikenakan tarif komersial. Kebijakan ini dinilai kurang tepat sasaran oleh komunitas pelari.

Baca Juga:  Barkley Marathons: Ultra Trail Paling Sadis di Dunia

Abah Donny menegaskan bahwa jalur tersebut sama sekali tidak memiliki fasilitas wisata buatan pengelola. Selama bertahun-tahun, perawatan lintasan murni dilakukan secara swadaya oleh komunitas pelari. Merekalah yang turun tangan membersihkan sisa longsoran, menyingkirkan pohon tumbang, dan memastikan jalur tetap aman dipijak.

“Bagi kami, ini adalah arena latihan, bukan objek wisata. Mengapa ada penerapan tarif terhadap aktivitas olahraga yang hanya melintasi kawasan tanpa memanfaatkan fasilitas apa pun?” tegasnya mempertanyakan.

Ekosistem Prestasi dan Tanggung Jawab Pelari

Abah Donny berharap pemerintah dan pemangku kepentingan (stakeholders) dapat mengubah cara pandang mereka. Akses menuju arena latihan di alam bebas seharusnya dipandang sebagai bentuk investasi negara dalam mendukung pembinaan atlet, bukan justru dilihat sebagai ceruk retribusi semata. Hambatan birokrasi dan komersialisasi ditakutkan akan mematikan proses regenerasi atlet trail Indonesia yang saat ini sedang naik daun di kancah Asia Tenggara.

Baca Juga:  Cisangkan KBP City Run 2025: Merayakan Prestasi, Menyatukan Energi Positif

Kendati memperjuangkan kebebasan akses, Abah Donny juga tidak lupa memberikan peringatan keras kepada komunitas pelari trail agar senantiasa menjaga adab di kawasan konservasi.

  • Tanggung jawab lingkungan: Pelari dilarang keras membuang sampah sembarangan dan dilarang merusak vegetasi alam.

  • Menghormati habitat: Tidak mengganggu satwa liar yang ada di dalam hutan.

  • Kontribusi aktif: Wajib ikut berpartisipasi dalam perawatan jalur dan kegiatan konservasi secara berkala.

“Kalau diberi kepercayaan untuk berlatih di kawasan konservasi, maka kita juga harus ikut menjaganya,” pesannya.

Melalui dialog terbuka, kolaborasi antara pengelola kawasan, pemerintah daerah, dan komunitas pelari diharapkan dapat segera menemukan titik temu (win-win solution). Tanjakan Abah Donny bukan sekadar urusan lintasan tanah yang menanjak, melainkan detak jantung dari ekosistem pembinaan olahraga trail running di Indonesia.

Follow Instagram Cerita Pelari @ceritapelari agar kamu dapat informasi lari lainya dan baca juga Tips dan Trik seputar lari.

Bagikan artikel ini melalui: