
Kejuaraan Atletik Pelajar Bulanan (KPAB) DKI Jakarta Bulan Juli (Foto: Cerita Pelari/Kholid Aziz)
JAKARTA – Prestasi olahraga di kancah dunia tidak pernah lahir dari proses semalam. Lebih dari sekadar mengandalkan atlet hebat yang tampil hari ini, kekuatan sejati sebuah negara terletak pada kemampuannya menyiapkan generasi pelapis. Tanpa ekosistem pembinaan kompetisi yang berkelanjutan, regenerasi akan terputus, dan talenta-talenta muda yang berpotensi bisa layu sebelum berkembang.
Kekhawatiran akan ancaman “hilangnya generasi” inilah yang menjadi cikal bakal lahirnya Kejuaraan Atletik Pelajar Bulanan (KAPB) DKI Jakarta, sebuah ajang grassroots yang kini menjelma menjadi tulang punggung pencarian bakat atletik ibu kota.
Inspirasi dari Krisis 1998 dan Kejayaan Jamaika
Ketua Umum Pengurus Provinsi Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (Pengprov PASI) DKI Jakarta, Mustara, menceritakan sejarah panjang di balik inisiatif KAPB. Ada dua momentum besar yang melatarbelakangi lahirnya ajang ini.
“Ketika dampak dari krisis moneter 1998–1999 melanda, kita kehilangan satu generasi emas anggota klub PASI DKI Jakarta. Di sisi lain, dunia melihat Jamaika sedang naik daun dan mendominasi nomor-nomor sprint (lari cepat) di Olimpiade. Dari dua kondisi kontras itulah, kami ingin memberikan sebuah solusi untuk Jakarta,” ungkap Mustara.
Berangkat dari kegelisahan tersebut, pada Januari 2007, PASI DKI Jakarta resmi melahirkan KAPB. Sesuai namanya, kompetisi ini dirancang tidak biasa: diselenggarakan rutin setiap bulan dengan sasaran utama pelajar tingkat SD, SMP, dan SMA.
Guna membangun dasar kecepatan, nomor yang dipertandingkan difokuskan pada sprint jarak pendek yang disesuaikan dengan usia:
Tingkat SD: 60 meter
Tingkat SMP: 80 meter
Tingkat SMA: 100 meter
Rekam Jejak Prestasi: Lahirkan Emilia Nova hingga Betaria
Hasil dari pembinaan presisi ini tidak butuh waktu lama untuk membuahkan hasil. Hanya berselang setahun sejak digulirkan, KAPB edisi 2008 berhasil mengorbitkan nama Betaria Sahulata, yang sukses menembus tim estafet DKI Jakarta dan menyabet medali emas di ajang Pekan Olahraga Nasional (PON).
Beberapa tahun kemudian, dari lintasan KAPB pula, muncul nama Emilia Nova. Atlet yang kini menjadi tulang punggung nasional di nomor lari gawang dan sapta lomba tersebut pertama kali terpantau bakatnya saat masih duduk di bangku sekolah dasar saat mengikuti KAPB.
Antusiasme Membeludak di Seri ke-202 (Juli 2026)
Konsistensi PASI DKI Jakarta patut diacungi jempol. Pada hari Sabtu (18/7/2026) lalu, KAPB telah resmi memasuki perhelatan Seri ke-202.
Pada seri bulan Juli 2026 ini, antusiasme sekolah dan pelajar sangat luar biasa. Tercatat sebanyak 525 atlet pelajar turun ke lintasan. Jumlah ini bahkan merupakan hasil pembatasan kuota oleh panitia demi menjaga efektivitas jalannya perlombaan.
Sistem Season Point dan Filosofi Kompetisi
Yang membuat KAPB sangat spesial adalah filosofi kompetisinya yang mengutamakan pembinaan (development), bukan sekadar mencari piala. Para juara di setiap seri tetap diberikan ruang untuk terus bertanding. Tujuannya adalah mematangkan mental dan performa atlet agar siap menembus jenjang Pembinaan Olahraga Prestasi Berkelanjutan (POPB), hingga bermuara di Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas).
Untuk menjaga motivasi, KAPB menerapkan sistem poin semusim (Season Point) guna memantau progres atlet dari satu seri ke seri berikutnya secara transparan (dapat diakses melalui situs resmi kapb-jkt.id).
Sebagai puncak apresiasi, seluruh poin tersebut akan diakumulasikan dan para atlet terbaik akan kembali dipertemukan pada ajang Kejuaraan Atletik Pelajar Bulanan Championships yang rutin digelar setiap bulan September.
“Konsep awal KAPB adalah melahirkan bibit-bibit atlet Indonesia di masa depan. Jakarta pernah kehilangan satu generasi, dan kami tidak ingin hal itu terulang. Atlet membutuhkan kompetisi untuk berkembang, begitu juga pelatih yang membutuhkan kompetisi sebagai tolok ukur proses pembinaan,” pungkas Mustara.














