Mikdarulloh, “Pertapaan” di Gunung Salak yang Berbuah Podium 7 Kategori120K Siksorogo Lawu Ultra

Mikdarulloh finish ke 7 di Siksorogo Lawu Ultra

Di dunia lari trail, nama Mikdarulloh mungkin dikenal sebagai pelari yang tenang namun mematikan di lintasan. Pria asal Bandung ini menjalani hidup dengan ritme yang jauh dari hiruk-pikuk kota: kadang berlari, melatih, berkebun, hingga beternak.

Namun, di balik gaya hidup yang ia sebut dengan candaan sebagai “pengangguran” ini, tersimpan disiplin baja yang membawanya meraih Podium 7 di kategori 120K Siksorogo Lawu Ultra 2025.

Awal Mula: Dari Rasa Penasaran ke Jalur Pendakian

Mikdarulloh mulai mengenal dunia lari trail pada akhir 2017. Berawal dari rasa penasaran melihat unggahan Ngaprak Ngabring BDG Explorer di media sosial, ia memutuskan untuk mencoba.

Langkah pertamanya langsung mencuri perhatian. Pada Januari berikutnya, ia nekat mendaftar kategori 42 kilometer di Tahura Trail Running. Hasilnya? Ia berhasil menembus 10 besar. Sejak saat itu, gunung bukan lagi sekadar tempat wisata, melainkan ruang belajar dan rumah kedua baginya.

Baca Juga:  Dramatis! Idan Fauzan Rebut Perunggu Dasalomba di SEA Games Thailand 2025

Ritual Latihan yang Tidak Biasa: “Ngampung” di Gunung Salak

Persiapan Mikdarulloh untuk Siksorogo Lawu Ultra 120K adalah sebuah cerita tentang totalitas. Hanya sehari setelah menyelesaikan Borobudur Marathon, ia langsung bertolak ke Gunung Salak untuk menjalani fase latihan intensif selama dua minggu.

Di sana, Mikda tidak hanya berlari. Ia hidup menyatu dengan lingkungan:

  • Menjaga Basecamp: Membantu mengelola tempat peristirahatan pendaki.

  • Aksi Sosial: Membersihkan area gunung hingga membantu proses evakuasi pendaki.

  • Metode Latihan “Yoyo”: Pola latihan Mikda tergolong unik. Ia berlari dari basecamp ke Pos 1 lalu turun lagi, lanjut ke Pos 2 lalu turun lagi, terus berulang hingga puncaknya ia selesaikan di Puncak Salak Prabu.

Bagi Mikda, gunung bukan untuk ditaklukkan, melainkan untuk dipahami batasnya.

“Latihan bukan sekadar naik turun gunung, melainkan belajar hidup berdampingan dengan alam dan memahami batas diri sendiri.”


Buah Manis Kesabaran di Siksorogo Lawu Ultra

Siksorogo Lawu Ultra dikenal sebagai salah satu race paling brutal dengan medan yang teknikal. Namun, Mikdarulloh datang dengan afirmasi yang kuat: menutup tahun 2025 dengan podium.

Baca Juga:  Odekta Elvina Naibaho Cetak Rekor Nasional Marathon Putri di Gold Coast Marathon 2025

Strategi latihan repetitif di Gunung Salak terbukti ampuh. Dengan kondisi fisik yang prima dan mental yang sudah “tertempa” di hutan, Mikda berhasil menyentuh garis finish dan mengamankan posisi ke-7 kategori Male 120K.

Sebuah pencapaian luar biasa yang membuktikan bahwa proses yang jujur tidak akan pernah mengkhianati hasil.

Menatap Aspal, Merindukan Tanah

Setelah sukses di jalur trail, Mikda memiliki keinginan unik untuk kembali ke lintasan road (jalan raya). Ia ingin merasakan adrenalin balapan jarak pendek dan beradu kecepatan dengan atlet-atlet nasional.

Baca Juga:  Taofik Hidayat Juara 70K BDG100 Ultra 2025

Meski begitu, ia mengakui bahwa lari trail akan selalu menjadi tempatnya untuk “pulang”.


Pesan dari Mikdarulloh: Progres adalah Perjalanan Sunyi

Mikda percaya bahwa setiap pelari memiliki garis start dan kecepatan masing-masing. Pesannya bagi para pelari lain sangat mendalam:

  1. Jangan Terburu-buru: Progres tidak selalu terlihat hari ini atau esok.

  2. Terus Melangkah: Sekecil apa pun langkahmu, itu tetaplah sebuah kemajuan.

  3. Menoleh ke Belakang: Suatu saat, kamu akan terkejut melihat seberapa jauh kamu sudah melangkah dari titik awal.

Kisah Mikdarulloh mengajarkan kita bahwa untuk mencapai puncak tertinggi, kadang kita perlu belajar untuk merendah dan menyatu dengan alam terlebih dahulu.

Follow Instagram Cerita Pelari @ceritapelari agar kamu dapat informasi lari lainnya dan baca juga Tips dan Trik seputar lari.

Bagikan artikel ini melalui: