Menjaga Mileage Lari Ditengah Kesibukan Bekerja

Adi Nugraha Menjaga Mileage Lari

Bagi mayoritas pekerja, jam 6 sore adalah waktu untuk melepas lelah. Namun bagi Adi Nugraha (25), seorang mekanik alat berat (A2B) di sebuah perusahaan kontraktor pertambangan, berakhirnya jam kerja justru menjadi sinyal untuk mengikat tali sepatu lari.

Di tengah debu dan mesin besar industri pertambangan, Adi membuktikan bahwa kesibukan kerja bukanlah penghalang untuk menjaga mileage lari melainkan ujian bagi kedisiplinan mental.

Berawal dari Podium Tak Terduga

Perjalanan lari Adi dimulai pada tahun 2023 dengan cara yang sangat organik. Berbekal fisik dari hobi bermain futsal, ia iseng mengikuti event internal perusahaan, MHU Fun Run 5K. Tanpa ekspektasi, tanpa sepatu lari khusus, dan tanpa program latihan formal.

Hasilnya mengejutkan: Adi masuk garis finish sebagai juara pertama dengan catatan waktu 19 menit 36 detik. Kemenangan “iseng” ini menjadi titik balik total. Sejak hari itu, lari bukan lagi sekadar aktivitas pengisi waktu, melainkan jalan hidup yang ia tekuni secara serius.

Baca Juga:  Ketika Lari Menjadi Jalan untuk Berbagi bagi Pendidikan Anak-Anak di Bali

Siasat Latihan di Antara Shift 12 Jam

Bekerja di sektor tambang berarti harus siap dengan ritme kerja yang brutal: shift pagi jam 06.00–18.00 atau roster shift malam. Manajemen waktu menjadi tantangan terbesar Adi.

Bagaimana seorang mekanik tambang tetap bisa menjaga mileage lari 30–40 km per minggu? Ini rahasianya:

  • Night Run: Berlatih pukul 19.00 malam setelah pulang kerja shift pagi.

  • Pre-Shift Run: Berlari di pagi hari sebelum masuk kerja shift malam.

  • Long Run di Hari Libur: Mengejar target jarak mingguan saat tidak ada jadwal kerja.

“Harga yang harus dibayar tidak kecil. Waktu tidur sering kali menjadi korban,” ungkap Adi. Namun bagi Adi, rasa lelah itu terbayar dengan kekuatan mental yang semakin terbentuk.


Kedisiplinan: Fondasi Utama Seorang Pelari

Bagi Adi, lari telah mengajarkannya lebih dari sekadar kecepatan. Lari adalah tentang Disiplin dan Konsistensi. Ia percaya bahwa dua hal ini adalah paket yang tidak bisa dipisahkan.

Baca Juga:  Apa itu PACE dan PACER? Simak Penjelasan Ini!

Disiplin tanpa konsistensi hanya akan membuat program latihan berantakan, pemulihan tubuh (recovery) melambat, dan progres terhambat. Mental pantang menyerah yang ia asah di lintasan lari ini pun terbawa ke dalam profesionalisme pekerjaannya di lapangan tambang.

Mimpi Besar: Dari Personal Best hingga Menjadi Pacer

Adi Nugraha tidak ingin berhenti di titik ini. Ia memiliki target teknis yang sangat spesifik untuk masa depannya:

  1. Memecahkan Personal Best 5K: Dari catatan terbaiknya saat ini 17:56, ia berambisi menembus angka 17 menit kecil.

  2. Menjadi Pacer: Adi bermimpi suatu hari bisa menjadi pacer dalam event lari. Baginya, membantu orang lain mencapai target waktu mereka adalah kepuasan batin yang luar biasa.

Baca Juga:  Mengapa Pelari Menjelang Race Susah Tidur? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

Pesan untuk Sesama Pekerja

Kisah Adi Nugraha adalah pengingat bahwa perjalanan besar selalu dimulai dari langkah kecil—bahkan dari sebuah lari “iseng” di kantor. Ia membuktikan bahwa meski tubuh lelah setelah memegang kunci inggris dan mesin berat seharian, semangat untuk terus maju tidak boleh padam.

Apapun pekerjaanmu, sesibuk apapun harimu, selalu ada ruang untuk melangkah jika kamu memiliki niat dan disiplin yang kuat.

Follow Instagram Cerita Pelari @ceritapelari agar kamu dapat informasi lari lainnya dan baca juga berita terbaru seputar lari.

Bagikan artikel ini melalui: