Kisah Sange Sherpa Pungut Sampah Saat Taklukkan Rinjani100 Ultra

Sange Sherpa

LOMBOK – Ajang trail run bertaraf internasional, Rinjani100 Ultra, tidak pernah kehabisan cerita magis di setiap edisinya. Di balik rute brutal yang menguras fisik dan mental, Gunung Rinjani selalu melahirkan kisah tentang ketangguhan dan karakter manusia. Tahun ini, salah satu narasi paling menyentuh datang dari pelari trail asal Nepal, Sange Sherpa, yang turun bertarung di kategori paling ekstrem, yakni 162 kilometer.

Perjuangan 37 Jam di Atap Nusa Tenggara

Berlaga di kategori terjauh dengan tantangan elevasi yang sangat menyiksa, Sange Sherpa berhasil membuktikan ketangguhan fisiknya. Ia sukses mengamankan posisi Juara 2 di kategori 162K.

Baca Juga:  Profil Sange Sherpa, Pemenang Rinjani 100 Ultra Kategori 162K

Pelari asal pegunungan Himalaya ini menyentuh garis finish dengan catatan waktu yang luar biasa, yakni 37 jam, 9 menit, dan 32 detik. Menyelesaikan rute 162K di Rinjani bukanlah sekadar soal kecepatan, melainkan pertarungan daya tahan dan manajemen kelangsungan hidup di alam liar.

Aksi Simpatik di Tengah Kelelahan Ekstrem

Namun, sorotan utama bagi Sherpa kali ini bukan hanya pada raihan podium atau catatan waktunya. Ada sebuah pemandangan menarik dan luar biasa mengharukan dari perjalanannya menuju garis akhir.

Di tengah kompetisi yang sangat ketat, tekanan untuk mempertahankan posisi, dan rasa lelah luar biasa karena harus terus berlari selama puluhan jam, Sherpa tertangkap mata masih menyempatkan diri untuk memungut sampah-sampah yang berserakan di jalur pendakian. Tindakan kecil di tengah penderitaan fisik yang besar ini menunjukkan kelasnya, bukan hanya sebagai atlet elite, tetapi juga sebagai seorang pendaki sejati.

Baca Juga:  Cerita Dibalik Marathon, Nuge Sempat Dianggap "Aneh"

Pengingat Etika Trail Running untuk Kita Semua

Aksi sederhana yang dilakukan Sange Sherpa menjadi tamparan sekaligus pengingat keras bagi komunitas pelari lintas alam di Tanah Air.

Mengejar Personal Best (PB), mengejar cut-off time (COT), atau bersaing ketat di lintasan balap memang seru dan memompa adrenalin. Namun, menjaga kelestarian dan kebersihan alam yang menjadi arena bermain kita adalah hukum tertinggi yang tidak boleh dilanggar.

Prinsip Leave No Trace (jangan tinggalkan jejak apa pun selain jejak kaki) adalah fondasi utama dari olahraga lari lintas alam. Sange Sherpa telah membuktikan bahwa kelelahan ekstrem dalam sebuah lomba lari ultra bukanlah alasan untuk mengabaikan kelestarian alam.

Baca Juga:  Robi Syianturi Pecahkan Rekor Nasional Half Marathon di Gold Coast Marathon 2024

Selamat atas raihan podiumnya, Sange Sherpa! Terima kasih telah memberikan pelajaran berharga bagi ekosistem trail running Indonesia.

Follow Instagram Cerita Pelari @ceritapelari agar kamu dapat informasi lari lainnya dan baca juga berita terbaru seputar lari

Bagikan artikel ini melalui: