910 Nineten Rilis FW26 “Trancetopia”: Gebrakan Teknologi 3D Printing dan Ambisi Tembus UTMB Mont-Blanc

910 Nineten

TANGERANG – Jenama perlengkapan olahraga kebanggaan Tanah Air, 910 Nineten, kembali menancapkan tonggak sejarah baru dalam inovasi performance gear di Indonesia. Pada Kamis, 4 Juni 2026, 910 Nineten secara resmi meluncurkan koleksi FW26 Performance Collection yang bertajuk “Trancetopia: Strive in Progression”.

Koleksi ini bukan sekadar pembaruan lini produk, melainkan manifestasi nyata dari visi 910 Nineten untuk mendefinisikan ulang masa depan teknologi olahraga di Indonesia. Berangkat dari filosofi bahwa progres dicapai melalui konsistensi dan ketangguhan, Trancetopia hadir untuk memperluas akses teknologi kelas elite bagi seluruh tingkatan pelari.

LATYXFORM3D dan Ekosistem Inovasi Kelas Dunia

Sorotan paling tajam dalam koleksi FW26 ini jatuh pada LATYXFORM3D, platform inovasi alas kaki paling ambisius yang pernah digarap oleh 910 Nineten.

Melalui pemanfaatan teknologi cetak tiga dimensi (3D printing), platform ini membuka dimensi baru dalam konstruksi midsole modern. Teknologi ini memungkinkan tingkat presisi, efisiensi struktur ringan, dan optimasi biomekanik yang sebelumnya nyaris mustahil dicapai dengan metode manufaktur konvensional.

Baca Juga:  Amazfit Luncurkan Active Max dalam Event "Run To The Max"

CEO 910 Nineten, Anastasia Irene, menegaskan bahwa inovasi tidak lagi sebatas tentang kecepatan.

“Bagi kami, inovasi bukan lagi sekadar menciptakan produk yang lebih cepat. Inovasi adalah membangun ekosistem di mana teknologi mutakhir, wawasan atlet, dan desain yang memiliki tujuan dapat bersinergi untuk membentuk masa depan performa,” tegas Anastasia.

Untuk mengukuhkan posisinya, 910 Nineten juga secara agresif menggandeng mitra teknologi global. Beberapa inovasi utama yang melebur dalam koleksi FW26 ini meliputi:

  • LATYXFORM3D: Struktur performa biomekanik berbasis teknologi 3D printing.

  • Carbitex®: Sistem propulsi pelat karbon berkinerja tinggi untuk efisiensi dorongan lari maksimal.

  • Matryx®: Teknologi material upper super ringan, berdaya tahan tinggi, dan memberikan dukungan lockdown optimal.

  • Vibram®: Outsole legendaris untuk traksi superior dan cengkeraman buas di berbagai kondisi medan.

Baca Juga:  ASICS Gelar Jakarta : Speed : Race, Ajang Lari 5K Performance-Based Pertama di Indonesia

Sejarah Baru: Sepatu Trail Lokal Menuju UTMB Mont-Blanc 2026!

Selain amunisi road running, FW26 menjadi momentum krusial bagi peta jalan global 910 Nineten di skena lintas alam. Mereka secara resmi memperkenalkan platform sepatu trail elite terbaru yang dikembangkan secara spesifik untuk kompetisi ultra-trail level dunia.

Sepatu trail ini dijadwalkan akan menjalani debut kompetitif globalnya pada bulan Agustus 2026 di Chamonix, Prancis, tepatnya di ajang UTMB Mont-Blanc.

Langkah berani ini menjadikan 910 Nineten sebagai brand olahraga Indonesia pertama yang mendelegasikan inovasi alas kakinya untuk di panggung UTMB. Dikembangkan melalui riset mendalam dan pengujian atlet yang intensif, sepatu ini adalah simbol perlawanan bahwa inovasi Indonesia siap bersaing di kasta tertinggi trail running dunia.

Baca Juga:  9.200 Pelari Ramaikan Mandiri Jogja Marathon 2025 dengan Semangat Budaya & Lingkungan

Merayakan “Trancetopia” Melalui Silent Motion Run

Sebagai perayaan atas lahirnya era baru ini, 910 Nineten memadukan movement, music, dan community culture melalui inisiatif Silent Motion Run.

Acara lari subuh menuju matahari terbit ini mengajak peserta memasuki “frekuensi berbeda”. Menggunakan headphone nirkabel yang mengalirkan kurasi musik dan set DJ secara langsung sepanjang rute, pelari diajak membangun koneksi personal antara ritme langkah dan lingkungan sekitar.

Trancetopia dari 910 Nineten membuktikan bahwa kultur lari terus berevolusi. Bukan hanya soal seberapa cepat kita menyentuh garis finish, tetapi seberapa jauh kita berani mendorong batas kemungkinan yang ada.

Follow Instagram Cerita Pelari @ceritapelari agar kamu dapat informasi lari lainnya dan baca juga berita terbaru seputar lari.

Bagikan artikel ini melalui: