Mandiri Jogja Marathon 2026 Manjakan 10.200 Pelari dengan Rute Budaya dan Titik Water Station

Momen flag off Mandiri Jogja Marathon 2026 kategori Marathon (Foto; Cerita Pelari/Kholid Aziz)
YOGYAKARTA – Kawasan megah nan ikonis Candi Prambanan kembali menjadi saksi bisu kemeriahan pesta lari terbesar di Yogyakarta. Pada Minggu, 21 Juni 2026, Mandiri Jogja Marathon (MJM) 2026 sukses digelar dengan menyedot partisipasi masif sebanyak 10.200 pelari dari 17 negara.
Sesuai dengan tema besar yang diusung, yakni “More Than a Race”, ajang tahunan ini berhasil mengeksekusi pengalaman berlari yang meleburkan batas antara kompetisi olahraga, selebrasi budaya, dan pesona pariwisata Nusantara.
Lintasan yang “Hidup” dan Penambahan 21 Water Station
Berlari melintasi aspal Yogyakarta di ajang MJM tidak pernah terasa sepi. Sepanjang lintasan, langkah para peserta terus dipompa oleh kemeriahan cheering spot yang sangat kental akan nuansa lokal. Tabuhan gamelan, atraksi marching band, hingga harmoni paduan suara menjadi energi tak kasatmata yang mengiringi pelari dari garis start hingga finish.
Mengantisipasi tantangan cuaca Yogyakarta yang cukup terik, penyelenggara melakukan manuver krusial demi menjaga keselamatan dan performa pelari. Khusus untuk kategori Marathon (42,195 kilometer), jumlah water station diperbanyak secara signifikan menjadi 21 titik.
Keputusan strategis ini menuai pujian langsung dari Agus Prayogo, atlet lari nasional yang sukses merebut takhta Juara Pertama kategori Closed Master MJM 2026.
“Kehadiran water station yang memadai sangat berpengaruh terhadap strategi pelari, terutama untuk kebutuhan hidrasi di kategori marathon. Apalagi tadi kondisi matahari cukup terik,” apresiasi Agus usai menaklukkan lintasan.
Memburu Kepingan Sejarah: Medali “Panggung Krapyak”
Bagi para finisher, MJM menawarkan kebanggaan yang jauh lebih mendalam daripada sekadar catatan waktu. Setelah menyelesaikan lomba, setiap pelari yang berhasil menyentuh garis akhir dikalungi medali eksklusif seri kedua, yakni edisi “Panggung Krapyak”.
Medali ini bukan medali sembarangan. Ia merupakan bagian dari rangkaian mahakarya lima medali koleksi periode 2025–2029. Jika seluruh lima medali tersebut dikumpulkan, kepingannya dapat disusun menjadi simbol Sumbu Filosofi Yogyakarta. Inovasi ini menjadikan medali MJM bukan sekadar besi pengakuan, melainkan artefak koleksi bernilai historis dan budaya tinggi.
Pesta di Race Village dan Inisiatif Looping for Life
Keseruan acara nyatanya tidak menguap begitu saja di garis finish. Para pelari langsung disambut oleh gegap gempita di area Race Village. Peserta dimanjakan dengan berbagai aktivitas, mulai dari berburu perlengkapan lari eksklusif di stan official apparel partner adidas, menjelajahi produk-produk lokal di area Mandiri Laku Lokal, hingga memulihkan tenaga dengan ragam kuliner UMKM khas Yogyakarta.
Tidak lupa, komitmen terhadap pelestarian bumi turut digaungkan melalui area Mandiri Looping for Life. Di stan ini, pelari dapat menikmati berbagai layanan interaktif, seperti:
Fast Cleaning Shoes Experience (Pembersihan sepatu kilat)
Decorate Your Shoes (Dekorasi sepatu)
Decorate Your BIB & Medal (Dekorasi nomor dada dan medali)
Menariknya, seluruh aktivitas eksklusif tersebut dapat dinikmati pelari cukup dengan “membayar” menggunakan donasi iklim. Peserta diajak membeli sertifikat karbon melalui fitur Livin’ Planet di aplikasi Livin’ by Mandiri. Langkah cerdas ini menjadi aksi nyata untuk membantu mengimbangi (offsetting) emisi karbon yang dihasilkan dari aktivitas sehari-hari.
Mandiri Jogja Marathon 2026 sekali lagi membuktikan posisinya. Perpaduan sempurna antara kompetisi yang ketat, pelestarian budaya, geliat sport tourism, dan kepedulian lingkungan sukses menghadirkan pengalaman berlari yang akan selalu membekas di hati pelari dari seluruh penjuru bumi.
Follow Instagram Cerita Pelari @ceritapelari agar kamu dapat informasi lari lainya dan baca juga Tips dan Trik seputar lari.














