dr. Bagus Gilang Samudra, Menemukan Ibadah di Kerasnya Lintasan Trail

Bagus Gilang Samudra

Bagi banyak orang, profesi sebagai Dokter Spesialis Urologi yang menangani jadwal padat di rumah sakit sudah cukup menyita waktu. Namun, dr. Bagus Gilang Samudra (35) membuktikan bahwa di balik stetoskop dan ruang operasi, tersimpan jiwa seorang petualang yang terus mencari makna.

Bukan sekadar lari di aspal, Gilang adalah pelari trail ultra yang disiplin. Ia adalah sosok di balik inisiatif inspiratif #ngajisambilmendaki, sebuah gerakan yang menyatukan fisik yang lelah dengan hati yang tetap terarah kepada Sang Pencipta.

Dari Sepeda ke Jalur Pendakian

Perjalanan Gilang di dunia lari dimulai pada tahun 2020 sebagai adaptasi masa pandemi. Sempat bersepeda, ia akhirnya menemukan panggilannya di dunia lari pada 2022. Latar belakang masa SMA-nya yang aktif di klub Pecinta Alam seolah “memanggilnya pulang” ke gunung.

Baca Juga:  Robi Syianturi Sabet Emas Marathon SEA Games 2025 Setelah Latihan Intensif di Kenya

Prestasinya di dunia trail running tidak main-main. Ia telah membuktikan ketangguhannya dengan meraih Posisi 9 Overall di ajang Siksorogo Lawu Ultra (SLU) 80K 2024. Saat ini, ia tercatat secara resmi memiliki indeks UTMB 524, sebuah bukti kredibilitas di kancah lari lintas alam internasional.


#NgajiSambilMendaki: Mengubah Hobi Menjadi Investasi Akhirat

Bagi seorang dokter, waktu adalah komoditas yang sangat mahal. Sempat muncul kegelisahan di benak Gilang: Apakah berjam-jam berlari di gunung hanya menjadi aktivitas yang sia-sia bagi akhiratnya?

Ia menyadari bahwa media sosial bisa menjadi “racun hati” jika hanya dijadikan ajang pamer (riya). Untuk menetralisir hal tersebut, Gilang mengambil langkah berani dengan prinsip tegas: Setiap konten yang dibagikan harus memiliki nilai manfaat dan menjadi ladang ibadah.

“Dengan prinsip yang saya share untuk ibadah, setidaknya aku ingin beribadah di sela melakukan hal yang sepertinya buang-buang waktu untuk dunia, namun masih bisa bermanfaat untuk akhiratku,” ungkap Gilang.

Inilah yang melahirkan konten #ngajisambilmendaki. Di tengah napas yang tersengal menanjak bukit atau melintasi medan teknikal, ia tetap menyempatkan diri untuk bertafakur dan mengaji.

Baca Juga:  Maryanto Sardjimin: Dari Mimpi Spartathlon 2023 ke Podium Sri Chinmoy 2025 di Usia 63 Tahun!

Pesan Inspiratif: Jangan Terlalu Asyik dengan Dunia

Kisah dr. Gilang menjadi pengingat berharga bagi komunitas lari di Indonesia. Di tengah tren maraknya race dan ajang pamer medali, ia mengingatkan kita semua untuk kembali pada esensi hidup:

  1. Hobi Bukan Tujuan Utama: Jangan sampai hobi berlari menguras seluruh waktu hingga kita lalai pada kewajiban utama.

  2. Keseimbangan: Menjaga kesehatan fisik adalah ibadah, namun menjaga kesehatan ruhani adalah keharusan.

  3. Filosofi Berlari: Berlari bisa menjadi ruang untuk membersihkan hati, bukan justru menambah beban penyakit hati seperti riya.

Baca Juga:  Mikdarulloh, "Pertapaan" di Gunung Salak yang Berbuah Podium 7 Kategori120K Siksorogo Lawu Ultra

Ikuti Perjalanan Inspiratif dr. Gilang

Jika Anda mencari perspektif lain dalam dunia lari—yang tidak hanya bicara soal pace dan medali, tetapi juga tentang kedamaian jiwa—kisah dr. Bagus Gilang Samudra adalah yang perlu Anda ikuti.

Jelajahi petualangan inspiratifnya di lintasan trail dengan mengikuti Instagram @gilangsamudro.

Bagikan artikel ini melalui: