Arin Lubis, Cinta yang Mengawali Langkah dan Lahirnya Komunitas Lari “Run Before Office”

Komunitas Lari “Run Before Office”

Bagi banyak orang, lari mungkin tentang mengejar personal best (PB) atau naik ke atas podium. Namun, bagi Arin Lubis, setiap langkah di aspal Jakarta adalah tentang sebuah janji, kesehatan keluarga, dan ruang aman untuk berdialog dengan diri sendiri. Siapa sangka, sebuah kebiasaan sederhana sebelum berangkat kerja kini bertransformasi menjadi Komunitas Lari Run Before Office sebuah gerakan inspiratif bagi para pekerja ibu kota.

Titik Balik: Berawal dari Cinta dan Kesehatan

Perjalanan lari Arin tidak dimulai di lintasan atletik. Kisahnya bermula pada Mei 2024, setelah ia dan suaminya menjalani Medical Check Up (MCU) fertilitas. Hasil medis menunjukkan sang suami mengalami obesitas dan kondisi kesehatan yang memerlukan perhatian serius.

Meskipun Arin memiliki indeks massa tubuh (BMI) yang normal, ia membuat keputusan besar: Ia tidak akan membiarkan suaminya berjuang sendirian.

Arin memilih untuk mendampingi proses diet sang suami di bawah pengawasan dokter gizi. Langkah pertamanya? Bukan lari maraton, melainkan jalan kaki santai.

“Tidak ada target muluk-muluk, tujuannya hanya satu: bergerak dan konsisten bersama,” kenang Arin.

Menjadikan Trotoar Jakarta sebagai “Me Time”

Sebagai Marketing Brand Specialist di sebuah perusahaan kecantikan global di kawasan Kuningan, waktu adalah aset yang langka bagi Arin. Tantangan terbesarnya adalah mencari celah di tengah jam kerja yang panjang.

Baca Juga:  Reza Aulia, Pelari Tercepat Indonesia di Boston Marathon 2025

Solusinya ternyata sangat organik. Arin memilih berjalan kaki sejauh 2 kilometer setiap pagi—dari stasiun MRT Istora Mandiri menuju Senayan.

Selama 30 menit setiap pagi, Arin menemukan sesuatu yang lebih dari sekadar pembakaran kalori:

  • Dialog Diri: Ruang untuk memproses pikiran sebelum hiruk-pukuk pekerjaan dimulai.

  • Koneksi Emosional: Menghubungkan kembali pikiran dengan tubuh.

  • Keberanian Baru: Menyadari bahwa ia mampu melampaui batasan fisiknya sendiri.


Dari Jalan Kaki Menuju Kebahagiaan Berlari

Pada Desember 2024, Arin memutuskan untuk menaikkan intensitasnya. Ia mulai mencoba lari. Awalnya tidak mudah; jantung yang berdegup kencang dan rasa lelah yang cepat datang sempat membuatnya ragu.

Namun, manfaat emosional yang ia rasakan jauh lebih besar. Lari menjadi penawar stres (stress relief) dan pereda kecemasan (less anxious) yang efektif. Melalui lari, Arin meruntuhkan mental blok yang selama ini menghambatnya.

Baca Juga:  9 Pelari Inspiratif 99+9 KM Charity Run: Kisah Perempuan Berhijab yang #MelangkahPenuhKeyakinan

“Sering kali penghalang terbesar bukan datang dari luar, melainkan dari pikiran sendiri,” ungkapnya. Kini, Arin tidak lagi sekadar jalan kaki; ia aktif mengikuti berbagai race dan bergabung dengan komunitas strength training untuk memperkuat fisiknya.

Lahirnya “Run Before Office”: Ruang Aman untuk Pekerja

Pengalaman pribadi Arin ternyata beresonansi dengan banyak orang. Melalui kontennya di media sosial, banyak rekan sejawat dan pengikutnya yang merasa memiliki masalah serupa: ingin olahraga, tapi sulit konsisten sendirian.

Inilah yang menjadi cikal bakal Komunitas Lari Run Before Office.

Konsep ini bukan sekadar tentang membagi waktu, melainkan membangun ekosistem gaya hidup sehat:

  1. Bangun Pagi: Mengawali hari dengan disiplin.

  2. Sinar Matahari & Dopamin: Mendapatkan asupan energi alami sebelum masuk ke ruang kantor.

  3. Energi Positif: Menjalani hari kerja dengan pikiran yang lebih segar dan fokus.

Baca Juga:  Temukan Makna dari Lari: Asri Harjanti "Lari Bukan Hanya Untuk Diri Sendiri"

Kini, Run Before Office telah menjadi komunitas kecil yang menjadi “ruang aman” bagi para pekerja di Jakarta untuk saling menyemangati sebelum jam kantor dimulai.


Pesan Arin: Jatuh Cinta pada Proses

Bagi Arin Lubis, olahraga adalah soal kecocokan. Ia berpesan bagi siapa saja yang ingin memulai:

  • Pelajari & Amati: Lihat proses orang lain yang menginspirasi.

  • Coba & Rasakan: Jika kamu gagal namun tetap ingin mengulanginya dengan bahagia, itu tandanya kamu sudah jatuh cinta.

  • Jaga Konsistensi: Cinta butuh komitmen untuk terus tumbuh.

Kisah Arin membuktikan bahwa lari bukan sekadar tentang seberapa cepat kaki melangkah, tapi tentang seberapa besar hati kita untuk terus mencoba dan berbagi manfaat bagi orang di sekitar.


Bagaimana dengan kamu? Apakah kamu siap mengikat tali sepatu besok pagi sebelum bekerja?

Follow Instagram Cerita Pelari @ceritapelari agar kamu dapat informasi lari lainnya dan baca juga Tips dan Trik seputar lari.

Bagikan artikel ini melalui: